Sumber gambar: www.slideshare.net
Pandega Padma, Kamis, 16 Ramadhan 1436 H/02 Juli 2015 (DK/Akidah-Post 1)
Makna Akidah
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam." (Q.S. Ali Imran: 102).
Kita memohon agar hati kita tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk, Allah SWT berfirman:
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati-hati kami setelah Engkau memberi kami hidayah, dan berilah kepada kami dari sisi-Mu kerahmatan sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Q.S. Ali Imran: 8).
Makna Akidah secara Bahasa
Akidah menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat. Akidah berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh (Al-Munawwir, 1984, hal. 1023).Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, "Dia mempunyai akidah yang benar," berarti akidahnya terbebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran kepada sesuatu. (Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Kitabut Tauhid: 1).
Makna Akidah secara Syar'i
Menurut istilah (terminologi) akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya. Beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keraguan-keraguan (Al-Banna, hal. 456).Akidah adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat dalam bidang keyakinan yang diambil dari dalil-dalil mutlak dan menolak semua syubhat (kerancuan) dan semua dalil-dalil khilafiyah yang cacat. (Mizanul Muslim: 76).
Lebih spesifik, akidah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir dan qadar yang baik ataupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman (Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Kitabut Tauhid: 1).
Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang mantap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga kepada apa-apa yang wajib bagi diri-Nya dalam uluhiyah-Nya, dan rububiyah-Nya, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip agama (ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib dan kabar-kabarnya, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (kesepakatan) dari salafush shalih. Dan berserah diri kepada Allah Ta'ala dalam masalah hukum, perintah, takdir, dan syariat serta tunduk kepada Rasulullah saw dengan taat kepadanya, berhukum dan mengikuti petunjuknya. (Mabahits Fil Akidah: 9).
Objek (Pembahasan) Ilmu Akidah
Akidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu yang sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah meliputi topik-topik: tauhid, al-iman, al-islam, masalah ghaibiyah (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (ushulul ahkam), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.
Ilmu akidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, di antara nama-nama akidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah “Al-Iman”, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena akidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Akidah dinamakan juga dengan “Tauhid” karena pembahasannya utamanya berkisar seputar tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, tauhid merupakan kajian ilmu akidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya.
Selain itu dinamakan pula As-Sunnah yang artinya jalan. Akidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum di dalam masalah akidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama. Para ulama menyebutnya Ushuluddin, yaitu rukun-rukun iman, rukun-rukun islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.
Istilah lainnya adalah Ushuluddin, yaitu pokok-pokok agama yang mencakup semua rukun iman dan rukun islam serta berbagai masalah masalah qath'i yang telah disepakati oleh para ulama.
Akidah dinamakan juga dengan “Tauhid” karena pembahasannya utamanya berkisar seputar tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, tauhid merupakan kajian ilmu akidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya.
Selain itu dinamakan pula As-Sunnah yang artinya jalan. Akidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum di dalam masalah akidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama. Para ulama menyebutnya Ushuluddin, yaitu rukun-rukun iman, rukun-rukun islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.
Istilah lainnya adalah Ushuluddin, yaitu pokok-pokok agama yang mencakup semua rukun iman dan rukun islam serta berbagai masalah masalah qath'i yang telah disepakati oleh para ulama.
Urgensi Akidah sebagai Landasan Agama
Akidah merupakan dasar (asas) dalam bangunan Islam. Akidah diibaratkan sebagai sebuah pondasi dalam sebuah rumah atau bangunan, sehingga untuk membentuk keislaman seseorang harus bermula dari akidah yang benar dan kuat agar keislaman itu dapat bertahan kokoh menghadapi segala rintangan dan ujian yang datang menerpa.
Meskipun ajaran Islam dibagi ke dalam berbagai sistematika akidah, akhlak, syariat, dan mu’amalah dan sebagainya namun kesemua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu persatu sama sekali. Semuanya saling terikat dan berkaitan. Akidah yang kuat merupakan bekal bagi seseorang untuk melaksanakan ibadah dengan tertib, berakhlak mulia dan bermu’amalah dengan baik. Ibadah dan penghambaan diri seorang hamba tidak akan diterima jika dengan tidak dilandasi akidah yang benar (niat yang lurus). Seseorang tidaklah disebut berakhlak baik jika akhlaknya tidak dilandasi dengan akidah.
Akidah bukan sesuatu yang bisa direkayasa karena akidah berkaitan dengan hati. Sebagai contoh, seseorang bisa saja meninggalkan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, tapi seseorang tidak akan bisa menghindar dari akidah. Bisa saja seorang manusia berpura-pura dalam melaksanakan ibadah puasa tersebut namun Allah dengan sifat Maha Mengetahui segala isi hati akan menilai ibadah tersebut dengan nilai nol atau sia-sia.
Syariat terbagi menjadi dua, yaitu i'tiqadiyah dan amaliyah. I'tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Misalnya, i'tiqad (keyakinan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, juga terhadap rukun-rukun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4).
Meskipun ajaran Islam dibagi ke dalam berbagai sistematika akidah, akhlak, syariat, dan mu’amalah dan sebagainya namun kesemua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu persatu sama sekali. Semuanya saling terikat dan berkaitan. Akidah yang kuat merupakan bekal bagi seseorang untuk melaksanakan ibadah dengan tertib, berakhlak mulia dan bermu’amalah dengan baik. Ibadah dan penghambaan diri seorang hamba tidak akan diterima jika dengan tidak dilandasi akidah yang benar (niat yang lurus). Seseorang tidaklah disebut berakhlak baik jika akhlaknya tidak dilandasi dengan akidah.
Akidah bukan sesuatu yang bisa direkayasa karena akidah berkaitan dengan hati. Sebagai contoh, seseorang bisa saja meninggalkan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, tapi seseorang tidak akan bisa menghindar dari akidah. Bisa saja seorang manusia berpura-pura dalam melaksanakan ibadah puasa tersebut namun Allah dengan sifat Maha Mengetahui segala isi hati akan menilai ibadah tersebut dengan nilai nol atau sia-sia.
'Amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Misalnya, shalat, zakat, puasa, dan seluruh hukum-hukum 'amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama), karena ia dibangun di atas i'tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i'tiqadiyah. Maka, akidah yang benar adalah pondasi bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Q.S. Az-Zumar: 110).
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Q.S. Az-Zumar: 2)
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Q.S. Az-Zumar: 3).
Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah Ta'ala semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia, sebagaimana firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (Q.S. An-Nahl: 36).
Akidah merupakan pintu gerbang bagi seseorang untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan yang Allah berikan. Itulah sebabnya Rasulullah SAW pada periode Mekah memfokuskan dakwahnya untuk membangun akidah yang benar dan kokoh kepada umatnya, yaitu akidah tauhid tentang sifat rububiyah dan ilahiyah Allah SWT. Sehingga ketika umat dan sahabat beliau telah memiliki akidah yang sempurna sangat mudah bagi mereka dalam menerima semua ayat-ayat perintah dan larangan dari Allah.
Setiap Rasul mengucapkan pada awal dakwahnya:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (Q.S. Al-A'raf: 59, 65, 73, dan 85).
Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib, dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah sesudah diangkat menjadi rasul, Nabi saw mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan akidah, karena hal itu merupakan pondasi bangunan Islam. Para dai dan pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Mereka pun memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan akidah, setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain. (Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Kitabut Tauhid: 2-3).






0 komentar:
Posting Komentar