Jakarta, Senin 05 Oktober 2015/22 Dzulhijjah 1436 H (DK/Tarbiyah/Post-1)
Definisi Tarbiyah
Secara bahasa tarbiyah tidak terlepas dari tiga akar kata: yaitu dari kata rabaa-yarbuu yang artinya bertambah dan berkembang. Hal itu sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala tentang makna riba:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Q.S. Ar-Rum: 39).
Kemudian, berasal dari kata rabiya-yarba yang berarti tumbuh dan berkembang dan rabba-yarubbu yang berarti merperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan.
Imam Al-Baidhawi berkata; “Pada dasarnya ar-rab itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menyampaikan sesuatu hingga tercapainya kesempurnaan.” Sementara Ar-Raghib Al-Isfihani dalam Mufradatul Qur’an berkata, “Ar-Rab bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menumbuhkan perilaku demi perilaku secara bertahap hingga mencapai batas kesempurnaan.” [1]
Tarbiyah atau pendidikan islam merupakan kegiatan yang betul-betul memiliki tujuan, sasaran dan strategi. Pendidik sejati yang mutlak adalah Allah, Dia-lah pencipta fitrah, pemberi bakat, pengajar, dan pembimbing. Pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan urusan sistematika menanjak yang membawa anak didik dari satu perkembangan ke perkembangan lainnya. Peran seorang pendidik harus sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya, dengan kata lain bahwa seorang pendidik harus mengikuti syariat Allah. [2]
Tarbiyah itu bukan hanya sebagai upaya mencerdaskan semata (pendidikan intelek, kecerdasan) melainkan sejalan dengan konsep manusia dan hakikat eksistensinya sebagai khalifah di muka bumi. Proses tarbiyah merupakan rangkaian usaha, membimbing dan mengarahkan potensi hidup manusia, yang berupa kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadi kita sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana kita hidup. Proses tersebut senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai Islam yang melahirkan akhlakul karimah untuk mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat yang baik. Atau dengan kata lain tarbiyah merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan adalah proses tarbiyah, maka tarbiyah islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup islami, yang diharapkan tercermin dalam sikap dan keterampilan hidup yang islami, sehingga akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara sempurna lahir dan batin, material, spiritual dan moral sebagai pencerminan dari nilai-nilai ajaran Islam.
Tarbiyah Islamiyah sebagai Kewajiban Umat
Tarbiyah islamiyah merupakan proses mempersiapkan seseorang untuk menjadi insan yang shalih, yang tercapai di dalamnya suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan dan tindakannya secara menyeluruh. Penekanan makna tarbiyah islamiyah ialah menuju terhadap pembentukan kepribadian, perbaikan sikap mental yang memadukan iman dan amal shalih pada individu dan masyarakat, penekanan pendidikan yang mampu menanamkan ajaran Islam dengan menjadikan manusia yang sesuai dengan cita-cita Islam yang berorientasi pada dunia akhirat.
Tarbiyah islamiyah memiliki landasan, tujuan, sarana dan kegiatan yang bersumber kepada wahyu Allah, sehingga memiliki sifat pendidikan yang sempurna meliputi seluruh aspek kehidupan agar manusia menjauh dari sifat buruk dan mengarahkannya kepada berbagai keutamaan. Sebagai sebuah proses yang bersumber dari sisi Allah, tarbiyah islamiyah akan selalu ada di sepanjang masa, mencakup seluruh umat manusia tanpa terpisahkan oleh batasan atau golongan tertentu.
Tarbiyah islamiyah menuntun kepada arah keseimbangan antara potensi jasmani, rohani dan akal. Selaras dengan fitrah manusia dalam menghadapi kehidupan di muka bumi. Sangat realistis, mudah dipraktekkan dan berpengaruh pada semua golongan manusia. Tarbiyah mendorong manusia mencapai tingkatan dan prestasi hidup yang hakiki dalam kehidupan pribadi, orang—rang yang berada di sekitarnya bahkan dengan alam, membuat seseorang menjadi positif, aktif dan responsif dalam memakmurkan bumi dan mengambil sebesar-besar manfaat dengan bimbingan agama.
Manusia memiliki amanat besar, yakni dengan tugas manusia sebagai hamba Allah yang berkewajiban untuk beribadah dengan syariat yang telah ditentukan. Oleh karena itu manusia membutuhkan pengajaran dan pembinaan. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh, (Q.S. Al-Ahzab: 72).
Tarbiyah akan mengantarkan kita kepada perilaku yang diinginkan oleh Allah, begitu pula syariat Islam hanya dapat diterapkan oleh orang-orang yang ditempa dan dibina di atas landasan keimanan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. An-Nur: 51-52).
Tarbiyah akan mengantarkan umat manusia kepada jalan kemenangan sebagaimana firman Allah di atas. Dengan tarbiyah manusia akan terhindar dari keburukan dan kerugian serta memperoleh keselamatan. Allah Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ
Demi masa.
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr: 1-3).
Keselamatan seseorang manusia dari kerugian dapat dicapai dengan tarbiyah diri pada keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah serta beriman kepada yang ghaib, pendidikan yang menjadikan seseorang beramal shalih dan pendidikan masyarakat yang membawa manusia kepada perilaku saling menasehati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran dengan tolong menolong dalam kebaikan.
Tujuan Tarbiyah Islamiyah
Tujuan terakhir tarbiyah islamiyah terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh umat manusia, beriman dan bertakwa kepada Allah serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan pada ajaran Al-Quran dan Sunnah, maka tujuan dalam konsep ini berarti terciptanya insan-insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.
Tarbiyah berlangsung sepanjang hayat manusia, oleh karena itu tujuan akhir tarbiyah harus terefleksi sepanjang hidup manusia, dengan demikian tujuan akhir tarbiyah islamiyah pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan perannya sebagai makhluk ciptaan Allah. Segala usaha untuk menjadikan manusia menjadi abid (penyembah Allah), inilah tujuan tertinggi dalam tarbiyah Islam. Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Al-Quran yang berbunyi: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku”. Dari ayat tersebut jelas kiranya bahwa tujuan yang hendak dicapai yaitu membentuk insan kamil yang muttaqin, dan terefleksikan dalam hubungan baik antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitar.
Tujuan terbentuknya individu yang muttaqin mustahil tercapai tanpa pendidikan yang integratif yang mencakup seluruh unsur-unsur yang ada pada diri manusia. Maka pendidikan seharusnya mengajarkan kemampuan berpikir, mengembangkan kecerdasan religius dan spritualnya, dan secara terus-menerus melakukan penyucian jiwanya (tazkiyatun nafs). Proses pendidikan yang integratif dalam tataran praktis berorientasi pada tiga aspek, yakni iman, ilmu dan amal. Tegasnya pendidikan yang terintegrasi tidak pernah dan tidak akan mendikotomikan antara kehidupan dunia-akhirat, jasmani-rohani, dan individu-masyarakat, akan tetapi mencakup segala aspek kehidupan manusia di dunia yang nantinya akan berimplikasi pada kehidupan akhirat. Misi tarbiyah ini diisyaratkan dalam Al-Quran:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. Al-Jumuah: 2).
Adapun tujuan tarbiyah islamiyah secara rinci dalah sebagai berikut:
1. Membentuk akidah yang benar, yaitu untuk memlihara fitrah manusia sebagai makhluk yang bertauhid dan menjauhkannya dari segala bentuk kesyirikan dan kekufuran, membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Diharapkan seseorang akan memahami rukun iman yang enam dengan benar, memahami akan hakikat dirinya (dari mana, tujuan dan tugas hidupnya), memahami hakikat alam semesta dan hakikat kehidupan dunia dan akhirat yang sebenarnya.
2. Mengajarkan ibadah yang benar, yaitu ibadah yang sesuai dengna petunjuk yang telah digariskan oleh Allah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw, baik ibadah yang wajib maupun yang sunnah. Pengajaran ini hendaknya didasarkan kepada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih serta menjauhkan diri dari berbagai macam bid’ah yang menyesatkan.
3. Membentuk manusia yang istiqamah, yaitu dengan membina dan melatih secara terus menerus untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl: 97).
4. Membentuk manusia sosial, yaitu setiap orang dan keluarga muslim dalam sebuah masyarakat melakukan interaksi sosial secara islami, baik dalam bertetangga, persahabatan, bertamu, bermuamalah, dan sebagainya dengan mencurahkan kontribusinya secara positif demi kepentingan umat bersama dalam ukhuwah islamiyah. Rasulullah saw bersabda: “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari: 13 dan Muslim: 45).
5. Menumbuhkan mental dan semangat ta’awun sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat: 13), yaitu dengan tolong menolong dalam amal kebajikan dan ketakwaan.
6. Memakmurkan bumi, sebagaimana Allah mengarahkan manusia untuk mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah: “Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” Setelah itu Allah mendorong kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menerapkannya untuk kesejahteraan umat manusia dengan cara mengelolanya. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Anfal: 60).
7. Membentuk umat yang memiliki loyalitas kepada Islam, yakni menjalankan tugas pokok manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan mengerahkan segenap potensi dan kemampuannya, baik harta maupun jiwa untuk berjuang di jalan Allah. Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,
لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Q.S. Al-An’am: 162-163).
Catatan Kaki:
1. Mizanul Muslim, 2/66
2. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat hal. 20-21 dalam Mizanul Muslim, 2/66











