Sumber gambar: iluvislam.com
Ahad, 1 Syawal 1436 H/19 Juli 2015 (DK-Akhlak/Post 1)
Pengertian Akhlak
Akhlak merupakan bentuk jama’ (plural) dari kata tunggal khuluq. Kata khuluq dalam kamus shihah berarti tabiat atau perangai.[1] Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Khuluq dalam bahasa Arab artinya adalah adab atau etika yang mengendalikan seseorang dalam bertindak dan bersikap.”
Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dalam kitabnya Minhajul Muslim mendefinisikan akhlak sebagai kondisi yang kuat dalam jiwa yang darinya muncul keinginan berusaha dalam bentuk kebaikan, keburukan, keindahan, dan kejelekan. Secara tabiat akhlak dapat dipengaruhi oleh pendidikan yang baik dan buruk.
Ibnu Masykawih berkata: Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam di dalam jiwa, darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tidak memerlukan pertimbangan-pertimbangan pikiran terlebih dahulu. [2]
Sedangkan secara syar’i akhlak maknanya adalah adab dan sopan santun yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. [3] Akhlak memuat aturan tentang perilaku lahir dan batin yang dapat membedakan antara perilaku yang terpuji dan tercela, antara yang salah dan benar, antara yang patut dan yang tidak patut, dan antara yang baik dan yang buruk serta menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai acuannya.
Kedudukan dan Sumber Akhlak
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman seseorang. Rasul SAW bersabda: “Orang mukmin yang paling semurna imannya adalah yang paling luhur akhlaknya di antara orang beriman” (H.R. Tirmidzi). Rasul bersabda pula: “Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sesungguhnya sedikitpun bukan dari Islam, dan sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R. Thabarani, Ahmad dan Abu Ya’la). Keluhuran akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat: “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melalui kejujuran akhlaknya” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Akhlak adalah buah dari ibadah sebagaimana Allah SWT berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 45).
Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, baik pribadi maupun umat, karena itulah akhlak yang menentukan eksistensi seorang Muslim sebagai makhluk Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya” (H.R. Muttafaq alaih).
Akhlak berbeda dengan norma. Jika norma didasarkan pada kesepakatan yang dibuat oleh kelompok orang tertentu, maka akhlak adalah berlandaskan keimanan yang benar merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Faktor-Faktor Pembentuk Akhlak
Faktor-faktor pembentuk akhlak antara lain:
1. Faktor Al-Wiratsiyyah (genetik)
Contohnya ialah seseorang cenderung berbicara keras disebabkan faktor keadaan daerah tempat tinggalnya.
2. Faktor An-Nafsiyyah (psikologis)
Yaitu berasal dari nilai-nilai keluarga tempat seseorang berkembang sejak lahir.
3. Faktor Syari’ah Ijtima’iyyah (sosial)
Disebabkan oleh faktor lingkungan, yaitu dari pengaruh manusia yang ada di sekelilingnya beserta aktivitas dan kebudayaan yang ada di daerah tersebut.
4. Faktor Al-Qiyam (nilai islami)
Yaitu nilai-nilai islami yang direfleksikan oleh seseorang dalam seperangkat tindakan atau gaya hidup dengan motivasi hanya karena Allah.
Anjuran untuk Berakhlak Mulia
Allah swt berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(Q.S. Ali-Imran: 133-134)
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (H.R. Bukhari dalam al-adab al mufrad).
Rasulullah saw juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian dan paling dekat majelisnya dengan aku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (H.R. Tirmidzi).
Rasulullah saw ditanya tentang amalan yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga, maka beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (H.R. Tirmidzi).
Al-Hasan berkata: “Akhlak yang baik itu adalah bermuka manis, dermawan, dan tidak suka mengganggu.” [4]
Para salaf menyebutkan ciri-ciri akhlak yang baik itu dengan beberapa sifat, di antaranya: memiliki rasa malu yang mendalam, sedikit berbuat kesalahan dan banyak berbuat kebaikan, benar ucapannya dan tidak banyak bicara, selalu beramala dan sedikit berbuat kekeliruan, menghindari perbuatan yang tidak berguna, berbuat beik dalam pergaulan, menghormati orang lain, bersikap sabar, banyak berterima kasih, rela, penyantun, setia, dapat menahan diri, tidak suka mengutuk dan mencela, tidak suka memaki atau mengadu domba dan mengumpat, dan tidak suka tergesa-gesa. Termasuk juga tidak pendendam, kikir dan iri hati, selalu manis muka dan ceria, cinta dan benci karena Allah. Rela dan marah juga karena Allah. Itu semua pengertian dari akhlak yang baik, mengenai sebagian sifat-sifatnya. [5].
[1] Mizanul Muslim hal. 400
[2] Ihya’ Ulumudin, 3/5
[3] Mizanul Muslim hal. 400
[4] Mizanul Muslim hal. 402
[5] Minhajul Muslim bab akhlak wal adab






0 komentar:
Posting Komentar