Sumber Gambar: almanar.co.id
Kamis, 6 Agustus 2015/21 Syawal 1436 H (DK/Tazkiyatun Nafs/Post-1)
Pengertian Tazkiyatun Nafs
Istilah “tazkiyah” berasal dari dalam bahasa Arab: “zakka-yuzakki-tazkiyyatan” yang bermakna: menumbuhkan dan mengembangbiakkan (anma), mensucikan dan membersihkan (thahhara) dan memperbaiki (ashlaha) [1]. Sedangkan “nafs” berasal dari bahasa Arab an-nafs yang bermakna jiwa atau ruh [2]. Secara bahasa, istilah tazkiyatun nafs bermakna mensucikan, membersihkan dan memperbaiki jiwa atau ruh [3].
Imam Qatadah mengatakan bahwa tazkiyatun nafs adalah beramal kebaikan dan mensucikan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah [4]. Sedangkan Imam Hasan Al-Bashri mengartikan sebagai upaya mensucikan, memperbaiki dan membawa jiwa di atas ketaatan kepada Allah. Atau, mensucikan jiwa dari kesyirikan dan seluruh bentuk maksiat [5].
Menurut Said Hawwa dalam muqadimah Tazkiyatun Nafs, tazkiyah secara etimologi mempunyai dua makna, yakni penyucian dan pertumbuhan. Tazkiyah dalam arti yang pertama adalah membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat tercela, sedangkan arti yang kedua, berarti menumbuhkan dan memperbaiki jiwa dengan sifat-sifat terpuji. Dengan demikian tazkiyatun nafs tidak saja terbatas pada pembersihan dan penyucian diri, tetapi juga meliputi pembinaan dan pengembangan diri.
Tazkiyatun nafs membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya, merealisasikan kesuciannya dengan tauhid, keimanan dan cabang-cabangnya, dan menjadikan nama-nama Allah sebaik akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah dengan pengakuan rububiyah-Nya, serta menjauhi dosa-dosa dan perbuatan tercela.
Tazkiyatun nafs sering disebut dengan istilah tarbiyah, tashfiyah, ishlah, penyucian jiwa, manajemen qalbu, bening hati, wisata hati, pembersihan jiwa dan istilah-istilah yang senada [6].
Kewajiban utama seorang muslim adalah tunduk kepada Allah, dan ini tidak akan tercapai kecuali dengan cara membersihkan diri dari semua hal-hal yang dibenci Allah. Inilah yang disebut “penyucian”. Namun, jelas bahwa jiwa harus pula tumbuh atas bantuan Allah. Bertumbuh juga dapat disebut tazkiyah. Dengan demikian, kedua arti itu, yakni penyucian dan pertumbuhan bisa saja berlaku bagi kata tazkiyah.
Kita dapat pula menganggap penyucian sebagai usaha menumbuhkan jiwa sehingga kedua arti itu bisa diartikan saling berkait satu sama lain. Dengan demikian, tazkiyatun nafs tidak saja mengandung arti mensucikan jiwa, tetapi juga mendorongnya untuk tumbuh subur dan terbuka terhadap karunia Allah.
Urgensi Tazkiyatun Nafs
Ajaran Islam erat kaitannya dengan jiwa manusia. Tazkiyatun nafs merupakan salah satu unsur penting dalam Islam yang untuk itulah Nabi Muhammad diutus sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah) dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 2).
Membersihkan jiwa adalah hal yang urgen bagi kita, karena jiwa yang bersih akan menlahirkan perbuatan yang bersih berupa amal shalih, karena jiwalah yang menentukan perbuatan amal baik dan buruk.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 151).
Allah Ta’ala mengisahkan doa Nabi Ibrahim as untuk anak dan cucunya:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah: 129).
Tazkiyatun nafs berhubungan erat dengan usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dasar argumentasinya, bahwa Allah tidak bisa didekati oleh orang yang jiwanya tidak suci, karena Allah adalah Rabb Yang Maha Suci, yang hanya bisa didekati oleh orang yang berjiwa suci pula. Oleh karenanya, tingkat kedekatan (qurb), pengenalan (ma’rifah) dan tingkat kecintaan (mahabbah) manusia terhadap-Nya sangat bergantung pada kesucian jiwanya.
Keberuntungan dan kebahagian seorang manusia tergantung kepada kesucian jiwanya dari segala hal yang menodai jiwa seperti kufur, syirik, dosa-dosa dan akhlak tercela. Sungguh telah beruntunglah siapa yang menyucikan dan mengembangkan jiwanya dengan mengikuti tuntunan Allah dan Rasul serta mengendalikan nafsunya, dan sungguh merugilah siapa yang tidak menjaga kesucian jiwanya dengan mengikuti rayuan nafsu dan godaan setan, atau menghalangi jiwa itu mencapai kesempurnaan dan kesuciannya dengan melakukan kedurhakaan serta mengotorinya.
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, (Q.S. Asy-Syams: 9).
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syams: 10).
Allah menegaskan akan hal ini dengan sumpah beragam makhluknya sebanyak sebelas kali.
Allah Ta’ala berfirman: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),” (Q.S. Asy-Syams: 1-7).
Tazkiyah hati dan jiwa hanya dapat dicapai melalui ibadah dan amal perbuatan tertentu, apabila dilakukan secara sempurna dan memadai. Pada saat itulah terealisir dalam hati sejumlah makna yang menjadikan jiwa tersucikan dan menjadikan sejumlah dampak dan hasil pada seluruh anggota badan seperti hati dan lisan, mata, telinga dan lainnya. Hasil paling nyata dari jiwa yang disucikan adalah adab dan mu’amalah yang baik kepada Allah dan manusia. Kepada Allah berupa pelaksanaan hak-hak-Nya termasuk pengorbanan jiwa dalam rangka jihad di dalam-Nya. Sedangkan kepada manusia mengikuti ajaran dan taklif Ilahi [7].
Tazkiyah memiliki sarana seperti shalat, infak, puasa, haji, dzikir, pikir, tilawah Al-Qur’an, renungan, muhasabah, dzikrul maut, apabila dilaksanakan secara sempurna dan memadai. Di antara pengaruhnya adalah terealisasi tauhid, ikhlas, sabar, syukur, cemas, harap, santun, jujur kepada Allah dan cinta kepada-Nya di dalam hati. Dan terhindar dari semua hal-hal yang bertentangan dari hal tersebut seperti ujub, riya, ghurur, marah karena nafsu atau karena setan. Dengan demikian jiwa menjadi tersucikan lalu hasil-hasilnya nampak pada terkendalinya anggota badan sesuai perintah Allah dalam berhubungan dengan keluarga, tetangga, masyarakat dan seluruh manusia [8].
Seseorang yang jiwanya telah ditazkiyah akan diselamatkan dari siksa api neraka, selamat dari kemurkaan dan siksaan Allah di hari harta dan anak kita tidak berguna sama sekali.
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, (Q.S. Asy-Syu’ara: 88).
إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (Q.S. Asy-Syu’ara: 89).
Catatan Kaki:
1. Kamus Al-Munawwir: 577.
2. Kamus Al-Munawir: 1446
3. Mizanul Muslim: 2/16
4. Ad-Durul Mantsur: 8/530
5. Ighatsatul Lahfan: 1/55
6. Mizanul Muslim: 2/17
7. Tazkiyatun Nafs Syaikh Said Hawwa: 2
8. Tazkiyatun Nafs Syaikh Said Hawaa: 3






0 komentar:
Posting Komentar