• Beranda
  • Profil
  • Kontak

Forum Belajar Islam

Sa Uhajim ar-Ruum min Uqri Baiti

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail
  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Downloads
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Uncategorized

Social Profiles

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail
  • Popular
  • Tags
  • Blog Archives

Saran Redaksi

    ul.rcentside *{-moz-box-sizing:border-box;-webkit-box-sizing:border-box;box-sizing:border-box} ul.rcentside{font:normal normal 11px Verdana,Geneva,sans-serif} ul.rcentside,ul.rcentside li{margin:0;padding:0;list-style:none;position:relative} ul.rcentside{width:100%;height:500px} ul.rcentside li{height:24.5%;position:absolute;padding:0;width:49.5%;float:left;overflow:hidden;display:none} ul.rcentside li:nth-child(1),ul.rcentside li:nth-child(2),ul.rcentside li:nth-child(3),ul.rcentside li:nth-child(4){display:block} ul.rcentside img{border:0;width:100%;height:100%} ul.rcentside li:nth-child(1){width:100%;height:49.5%;margin:0 0 2px;left:0;top:0} ul.rcentside li:nth-child(2){left:0;top:50%} ul.rcentside li:nth-child(3){left:50.5%;top:50%} ul.rcentside li:nth-child(4){width:100%;left:0;top:75%} ul.rcentside .overlayx,ul.rcentside li{-webkit-transition:all .4s ease-in-out;-moz-transition:all .4s ease-in-out;-o-transition:all .4s ease-in-out;-ms-transition:all .4s ease-in-out;transition:all .4s ease-in-out} ul.rcentside .overlayx{width:100%;height:100%;position:absolute;z-index:2;left:0;top:0;background-image:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq0WLig51F5T0vnxqkUqIJDsB0IR3yFDnXLdSyrXz4O1Iwn1Ipu6itdAipc2n_ZZNW4pq2kAhLTsX92akJm_mH13s1MftJRy812g4aBlZlCtJGbLZM2ye7WeuTdPc4_61oLR59ZCLg8KE/s1600/linebg-fade.png);background-position:50% 50%;background-repeat:repeat-x} ul.rcentside .overlayx,ul.rcentside img{border:4px solid #000000;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;border-radius:3px} ul.rcentside li:nth-child(1) .overlayx{background-position:50% 25%} ul.rcentside .overlayx:hover{-ms-filter:"progid:DXImageTransform.Microsoft. Alpha(Opacity=10)";filter:alpha(opacity=10);-khtml-opacity:0.1;-moz-opacity:0.1;opacity:0.1} ul.rcentside h4{position:absolute;bottom:30px;z-index:2;color:white;margin:0;width:100%;padding:0 10px;line-height:1.5em;font-family:Georgia,Times,"Times New Roman";font-weight:normal} ul.rcentside li:nth-child(1) h4,ul.rcentside li:nth-child(4) h4{font-size:150%} ul.rcentside .label_text{position:absolute;bottom:10px;left:10px;z-index:2;color:white;font-size:90%} ul.rcentside li:nth-child(2) .autname,ul.rcentside li:nth-child(3) .autname{display:none} .buttons{margin:5px 0 0} .buttons a{display:inline-block;text-indent:-9999px;width:15px;height:25px;position:relative} .buttons a::before{content:"";width:0;height:0;border-width:8px 7px;border-style:solid;border-color:transparent #535353 transparent transparent;position:absolute;top:50%;margin-top:-8px;margin-left:-10px;left:50%} .buttons a.nextx::before{border-color:transparent transparent transparent #535353;margin-left:-3px}
  • Pengantar Studi Tazkiyatun Nafs: Pengertian dan Urgensinya
    Sumber Gambar: almanar.co.id Kamis, 6 Agustus 2015/21 Syawal 1436 H (DK/Tazkiyatun Nafs/Post-1) Pengertian Tazkiyatun Nafs I...
  • Klasifikasi dan Karakteristik Orang yang Berilmu
    Sumber Gambar: fotodakwah.com Ahad, 04 Oktober 2015/21 Dzulhijjah 1436 H (DK/Ilmu/Post-3) Klasifikasi Ilmu Klasifikasi ilmu di ka...
  • Pengantar Ilmu Fiqih: Definisi, Objek Pembahasan dan Keistimewaannya
    Sumber gambar: wafekuliahonline.blogspot.com DEB SV UGM, Selasa 20 Ramadhan 1436 H/07 Juli 2015, (DK-Fikih-Post 1) Makna Fiqih...
  • Tingkatan ad-Din
    Sumber Gambar: muslimyouthwa.com.au Yogyakarta, 30 Agustus 2015 (DK/Akidah/Post-2) A. Definisi Ad-Din adalah ketaatan. Dala...
  • Pengantar Studi Akhlak: Pengertian, Kedudukan dan Sumber, Faktor-Faktor Pembentuk dan Anjuran Berakhlak Mulia
    Sumber gambar: iluvislam.com Ahad, 1 Syawal 1436 H/19 Juli 2015 (DK-Akhlak/Post 1) Pengertian Akhlak Akhlak merupakan ...
  • Pengantar Studi Dakwah: Makna, Hakikat, Hukum dan Unsur Dakwah
    Sumber Gambar: dainusantara.com Kamis, 7 Syawal 1436 H/23 Juli 2015 (DK/Dakwah/Post 1) Makna dan Hakikat Dakwah Kata dak...
  • Pakaian Wanita di Hadapan Mahramnya
    Sebelum mengetahui batasan-batasan yang diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan bagian-bagian tubuhnya di hadapan muhrimnya, ha...
  • Pengertian dan Keutamaan (Menuntut) Ilmu Syar'i
    Sumber gambar: www.percikaniman.org DEB SV UGM, Jum'at, 2 Ramadhan 1436 H/19 Juni 2015 (Ilmu-Post 1) Pengertian Ilmu ...
  • Keutamaan dan Tujuan Dakwah
    Sumber Gambar: dainusantara.com Kamis, 7 Syawal 1436 H/23 Juli 2015 (DK/Dakwah/Post 2) Keutamaan Dakwah 1) Dakwa di Jalan All...
Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • Akhlak
  • Akidah
  • Al-Qur'an
  • Artikel
  • Dakwah
  • Doa dan Dzikir
  • Fatwa
  • Fikih
  • Hadits
  • Ilmu
  • Imamah
  • Kemuslimahan
  • Kontak
  • Nasihat
  • Profil
  • Sirah dan Tarikh
  • Syari'ah
  • Tarbiyah
  • Tazkiyatun Nafs
  • tsaqafah Islamiyah

Blog Archive

  • ▼  2015 (39)
    • ▼  Oktober (2)
      • Pengantar Studi Tarbiyah Islamiyah: Definisi, Tuju...
      • Klasifikasi dan Karakteristik Orang yang Berilmu
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (18)

Blogger templates

Minggu, 04 Oktober 2015

Klasifikasi dan Karakteristik Orang yang Berilmu

03.33.00  Ilmu  No comments

Hasil gambar untuk karakteristik orang berilmu islam

Sumber Gambar: fotodakwah.com

Ahad, 04 Oktober 2015/21 Dzulhijjah 1436 H (DK/Ilmu/Post-3)

Klasifikasi Ilmu

Klasifikasi ilmu di kalangan para ahli ilmu terdapat beberapa pendapat. Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi saw: “Pokok ilmu itu adalah tiga, sedang selebihnya adalah pelengkap (keutamaan). Yaitu: ayat (Al-Qur’an) yang muhkamah (tetap sampai kiamat), sunnah yang ditegakkan dan pembagian harta warisan yang adil.” (Sunan Abu Dawud Juz VIII/473).


Imam Ibnul Qayyim membagi ilmu dalam dua macam [1], yaitu:

1. Ilmu yang memberikan kesempurnaan diri, yaitu ilmu tentang Allah, asma dan sifat-Nya, kitab-kitab, perintah dan larangan-Nya.
2. Ilmu yang tidak memberikan kesempurnaan diri, yaitu setiap ilmu yang tidak menimbulkan mudharat jika seseorang tidak mengetahuinya dan juga tidak memberikan manfaat.

Di antara ulama ada yang membagi ilmu pada dua persoalan pokok, yaitu ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela. 

Yang termasuk ilmu yang terpuji (maksudnya adalah ilmu syariah) adalah: [2] 

1. Ilmu ushul (dasar), yaitu kitabullah, sunnah rasulullah, ijma umat dan perkataan para sahabat.
2. Ilmu Furu’ (cabang) yaitu apa yang dipahami dari dasar-dasar ini, berupa berbagai pengertian yang memberikan sinyal kepada akal, hingga dapat memahami apa yang seharusnya dipahami, seperti pengertian yang diambil dari sabda Rasulullah saw, “Hakim tidak boleh membuat keputusan selagi dia sedang marah,” yang berarti dia juga tidak boleh membuat keputusan hukum selagi sedang lapar.
3. Ilmu muqaddimat (pengantar), yaitu ilmu yang berfungsi sebagai alat, seperti ilmu nahwu dan sharaf (bahasa), yang menjadi alat untuk memahami kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.
4. Ilmu mutammimat (pelengkap), seperti ilmu membaca, makhraj huruf, ilmu tentang nama-nama rijal hadits, keadilan dan keadaan mereka.

Sedang ilmu tercela antara lain di antaranya:

1. Ilmu yang memudharatkan dan tidak bermanfaat, seperti ilmu sihir dan ilmu nujum.
2. Ilmu materialisme yang bertentangan dengan ilmu kenabian, yang kesemuanya ditujukan untuk kesombongan dan pamer kekuatan.
3. Ilmu dunia yang melalaikan akhirat.
4. Ilmu yang tidak diamalkan dan disembunyikan oleh pemiliknya.
5. Ilmu yang menimbulkan perselisihan dan kedengkian.

Ada pula yang mengklasifikasikan ilmu menjadi dua macam, [3]  yaitu:

1. Ilmu din, yang terbagi jadi dua bagian:
  • Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu seperti ilmu tentang pemahaman akidah dan ibadah yang benar seperti rukun iman dan rukun islam.
  • Ilmu yang hukumnya fardhu kifayah, seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fara’idh, ilmu bahasa dan sebagainya.
2. Ilmu duniawi, yaitu segala macam ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala mashlahat dunia dan kehidupan manusia seperti ilmu kedokteran, ilmu hisab, ilmu kimia, perdagangan, politik, perang, dan lain-lain yang secara umum hukumnya adalah fardhu kifayah.

Karakteristik Orang yang Berilmu

Orang yang dikatakan berilmu adalah orang-orang yang mengetahui bahwa sesungguhnya dunia ini hina dan dijadikan sebagai tempat ujian sedangkan akhirat adalah mulia, kekal dan merupakan kampung halaman sesungguhnya. Keduanya, yakni dunia dan akhirat merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, namun orang berilmu akan menjadikan kehidupan akhiratnya menjadi prioritas dan orientasi hidupnya yang utama. Apa yang mereka perbuat sesuai dengan apa yang mereka ucapkan, mereka condong kepada ilmu-ilmu yang bermanfaat baginya dan menjauhi ilmu-ilmu yang tak memiliki manfaat. Sebagian dari ciri-ciri orang yang berilmu adalah sebagai berikut:

1. Seseorang yang berilmu memiliki rasa takut yang besar kepada Allah Ta’ala. Ibnu Mas’ud berkata: “Ilmu itu bukan dengan banyaknya ucapan, namun ilmu adalah banyaknya rasa takut kepada Allah.” Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir: 28).

2. Sebagaimana diungkapkan oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib ra, ilmunya sesuai dengan amal perbuatannya dan selalu beramal sesuai dengan kadar ilmunya. Allah Ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. (Q.S. Al-Jumu’ah: 5).

3. Tidak menyembunyikan ilmu, namun menyebarkan dan mendakwahkannya kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman: 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, 

إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 159-160).

4. Selalu bertafakur, mentadaburi ayat ayat Allah yang qauliyah maupun kauniyah, meyakini dengan sesungguhnya bahwa segala yang telah Allah ciptakan dan tetapkan tidak sedikitpun yang sia-sia dan menyimpan kekurangan atau kebathilan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali-Imran: 190-191).

5. Tidak menjadikan ilmunya untuk mengambil keuntungan dunia dengan cara yang diharamkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman: 

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa (Q.S. Al-Baqarah: 41).

6. Selalu melakukan yang terbaik dan selalu mencari yang paling mendekati kebenaran dari apa yang didapatkannya selama proses mencari ilmu. Tidak menyampaikan sesuatu kecuali ia telah meyakini kebenaran apa yang ia sampaikan dan tidak berbicara kecuali kebenaran yang ia ketahui. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S. Az-Zumar: 18).

7. Mengetahui hakikat kehidupan dunia dan akhirat dengan sebenarnya. Mereka mengetahui bahwa dunia ini hina dan sementara serta Allah menjadikannya penuh dengan ujian, namun akhirat kekal, mulia dan menjadi kampung halamannya yang sebenarnya. Keduanya, yakni dunia dan akhirat menjadi kebutuhannya, namun mereka lebih mementingkan akhirat. Apa yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka katakan. Mereka condong kepada ilmu ilmu yang bermanfaat dan menjauhi kesia-siaan dalam segala hal. 

8. Menjadikan kebaikannya sebagai sesuatu yang dicintainya, karena dia mengetahui bahwa kebaikannya akan mengikutinya dan menjadi teman setia ketika ia berada di di alam kubur. Mereka senantiasa mengekang hawa nafsu sehingga mereka memiliki karakter yang tenang karena ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman: 

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,” (Q.S. An-Naziat: 40).

9. Segera menyerahkan kepada Allah setiap kali ia memiliki sesuatu yang berharga, karena ia beriman kepada firman Allah: “Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (Q.S. An-Nahl: 96). Mereka menjadikan kemuliaannya pada ketakwaan, oleh karena itu mereka banyak beramal. Allah Ta’ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13).

10. Mereka menjauhi sifat iri dan dengki karena memperhatikan firman Allah: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan dalam kehidupan mereka.” (Q.S. Az-Zukhruf: 32). Mereka menjadikan setan menjadi musuhnya, tidak suka bermusuhan dengan sesama manusia sebagaimana firman Allah: 

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh bagi kalian.” (Q.S. Fathir: 6).

11. Menjadikan kesibukannya terhadap apa-apa yang menjadi kewajibannya dan mereka tidak mengandalkan perdagangannya, melainkan mereka bertawakal dengan apa yang telah mereka usahakan. Mereka beriman pada firman Allah: 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.” (Q.S. Hud: 6).

12. Banyak mengkaji ilmu tentang amal yang berkaitan dengan hal-hal yang membuat amal itu menjadi rusak dan mengeruhkan hati. Karena membuat suatu amalan itu menjadi bersih tidaklah mudah. Mereka berusaha menjaga amal dari segala keburukan. Mereka senantiasa mengkaji rahasia-rahasia amal syar’i dan mengamati hukumnya. Mereka selalu mengikuti jalan sahabat dan tabi’in yang terpilih dan menjauhi diri dari perkara-perkara baru yang menyesatkan (bid’ah).

Catatan Kaki:

1. Mizanul Muslim, 1/27
2. Minhajul Qashidin: 13
3. Mizanul Muslim: 28

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)
 
  • Entri yang Diunggulkan

    Disyari'atkannya Thalabul Ilmi

    Sumber gambar: virous007.wordpress.com DEB SV UGM, Jum'at, 2 Ramadhan 1436 H/19 Juni 2015  (Ilmu-Post 2) Islam menghendaki ...

    Blogger news

  • Blogroll

  • About

Copyright © Forum Belajar Islam | Powered by Blogger
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Free Blogger Themes
NewBloggerThemes.com