Sumber Gambar: muslimyouthwa.com.au
Yogyakarta, 30 Agustus 2015 (DK/Akidah/Post-2)
A. Definisi
Ad-Din adalah ketaatan. Dalam bahasa Arab dikatakan daana lahu yadiinu diinan maksudnya athaa’ah (menaatinya). Ad-Din juga disebut al-millah dilihat dari segi ketaatan dan kepatuhan kepada syariat [1]. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali-Imran: 19).
Keimanan seorang Muslim dalam agamanya bertingkat-tingkat, sesuai dengan kadar keilmuan dan amaliahnya. Ada yang memiliki kadar minimal untuk keabsahan iman (ashlul iman), adapula yang telah menggapai kesempurnaan iman , baik tingkatan wajib (al-iman al-wajib) maupun tingkatan yang sunnah (al-iman al-mustahab). Adapun penjelasannya secara rinci akan dijelaskan kemudian.
B. Tingkatan-Tingkatan Ad-Din
Untuk mengawali pembahasan kita pada tingkatan Ad-Din ini, kita terlebih dahulu perhatikan firman Allah Ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا
"Sebenarnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, sesungguhnya Kami tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berusaha memperbaiki amalnya." (Q.S. Al-Kahfi: 30).
Selanjutnya kita perhatikan sebuah hadits:
“Dari Umar bin Al Khattab ra., katanya: Pada suatu hari, dalam masa kami sedang duduk di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki: Putih melepak pakaiannya, hitam legam rambutnya, tidak kelihatan padanya tanda-tanda perjalanan (sebagai seorang pengembara), dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya; (demikianlah halnya) sehinggalah ia duduk mengadap Nabi SAW lalu ia menemukan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi sambil meletakkan kedua tapak tangannya atas kedua pahanya serta berkata: "Wahai Muhammad! Beritahulah kepada ku tentang (dasar-dasar) Islam?" Maka Rasulullah SAW menerangkan: "(Dasar-dasar) Islam itu ialah engkau melafazkan kalimah syahadat (meyakini serta menerangkan kebenaran) bahawa sesungguhnya tiada Illah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah utusan Allah dan engkau mendirikan shalat dan memberi zakat serta berpuasa pada bulan Ramadhan dan juga engkau mengerjakan haji ke Baitullah jika engkau mampu sampai kepadanya." (Mendengarkan penerangan Nabi yang demikian) ia berkata: "Benarlah apa yang engkau katakan itu!" Kata Umar: Maka kami merasa heran terhadap orang itu-ia bertanya kepada Nabi dan ia juga mengesahkan benarnya (sebagai seorang yang mengetahui perkara yang ditanyakannya itu). Kemudian ia bertanya lagi: "Beritahulah kepada ku tentang iman?" Nabi SAW menerangkan: "(Iman itu ialah) engkau beriman kepada Allah, malaikat malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, serta hari akhirat; dan engkau beriman kepada takdir (yang ditentukan oleh Allah) - baiknya dan buruknya." (Mendengarkan yang demikian) ia berkata: "Benarlah apa yang engkau katakan itu." Kemudian ia bertanya lagi: "Beritahulah kepada ku tentang ihsan?" Nabi SAW menerangkan: "(Ihsan itu ialah) engkau mengerjakan ibadah kepada Allah Taala seolah-olah engkau melihat-Nya (memerhatikan keadaanmu), kiranya engkau tidak dapat melakukan yang demikian maka ingatlah bahawa Allah Taala tetap memerhatikan keadaanmu." Kemudian orang itu bertanya lagi: "(Selain itu) maka beritahulah kepada ku tentang (masa berlakunya) hari qiamat?" Nabi SAW menjawab: "Orang yang ditanyakan mengenai hal itu bukanlah seorang yang lebih mengetahui dari yang bertanya." Orang itu bertanya lagi: "Jika demikian maka beritahulah kepada ku tentang tanda-tanda kedatangan hari qiamat itu?" Nabi SAW menerangkan: "(Tanda-tanda itu ialah engkau akan dapati) adanya hamba perempuan yang melahirkan anak yang menjadi tuannya dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, yang tidak berpakaian sempurna, yang miskin menderita, yang menjadi gembala kambing bermegah-megah dan berlomba-lomba antara satu dengan yang lain dalam perkara membina bangunan-bangunan yang tinggi. "Umar berkata: Kemudian orang itu pun pergi, maka tinggallah aku beberapa lama kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadaku, sabdanya: "Wahai Umar! Tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?" Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."(Pada saat itu) Rasulullah SAW menerangkan: "Orang itu ialah Jibril, ia datang untuk mengajar kamu akan agama kamu." (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar ra).
Dari hadits tersebut, kita dapat memahami tiga hal mendasar penjelasan tentang hakikat agama, yaitu Iman, Islam dan Ihsan yang kesemuanya berkaitan satu sama lain. Mengapa kita katakan hakikat agama? Karena di antara perkara-perkara yang ditanyakan kepada Rasulullah SAW ialah soal iman, islam dan ihsan, lalu dijawab oleh Nabi satu persatu. Walau pun pertanyaan itu dibuat satu-satu, tetapi ketiga-tiganya merupakan satu hakikat, yaitu "agama". Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW pada akhir hadis ini bahwa yang bertanya itu ialah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajar mereka akan "agama" mereka.
Dari sini kita akan membuat sebuah pengantar sebelum memperinci penjelasan tentang tingkatan Ad-Din. Ad-din atau agama jika dipandang dari segi amalan-amalan zahir disebut dengan nama "islam"; jika dipandangi dari segi kepercayaan dan keyakinan hati disebut dengan nama "iman"; dan jika dipandang dan segi kesempurnaan cara pelaksanaan dua perkara itu disebut dengan nama "ihsan". Tiga perkara yang dipandang dari segi-segi yang berlainan itu tidak harus berpisah antara satu dengan yang lain. Agama itu adalah ibarat sebatang pohon, akar umbinya serta usul asalnya bahkan benihnya ialah "iman"; dan seluruh pohon itu meliputi batangnya, dahannya, rantingnya, daunnya, bunganya dan buahnya ialah "islam"; sedangkan kesuburannya, keharumannya, kemanisannya dan seluruh keindahannya ialah "ihsan".
Adapun penjelasan secara rincinya adalah sebagai berikut:
1. Tingkatan Ashlul Iman (Pokok Iman) = Islam
Menurut bahasa, Islam berarti masuk dalam kedamaian. Dikatakan Aslama amrahu ilallah, artinya menyerahkan perkaranya kepada Allah (berserah diri). Adapun menurut syara’, Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid, dan tunduk kepada-Nya dan membebaskan diri dari syirik dan pelakunya. [2] Dan para ulama salaf pada umumnya menyimpulkan empat makna Islam, yaitu tunduk, patuh, taat dan berserah diri.
Islam dinamakan juga al-iman al-mujmal (iman secara global dan garis besar semata) atau muthlaqul iman (iman ala kadarnya). Yaitu tingkatan iman paling rendah yang menjadi syarat sahnya iman dan syarat agar tidak kekal di neraka dan dengannya seseorang terkena kewajiban syariat dan berhak menerima warisan. Tingkatan iman ini tidak boleh berkurang, karena berkurangnya kadar iman ini akan menyebabkan seorang berada di luar iman (murtad). [3]
Seseorang yang memiliki tingkatan iman ini disebut Muslim atau Mukmin yang imannya kurang atau fasik. Orang-orang yang termasuk ke dalam tingkatan ini adalah:
- Orang-orang Mukmin yang melakukan dosa besar, baik karena meninggalkan perintah syariat maupun karena melanggar larangan syariat.
- Orang-orang yang masuk Islam dan melakukan ketaatan, namun hakikat iman belum masuk ke dalam hati mereka. Seperti halnya orang-orang yang baru masuk Islam atau orang yang dilahirkan dari keluarga islam namun pemahaman terhadap agamanya masih mendasar. Agar menambah kadar keimanannya, seseorang harus menambah ilmu dan amalnya.
Orang yang tingkatannya berada di tingkatan ashlul iman masuk ke dalam kelompok ahlul wa’id, yaitu orang-orang yang mendapat ancaman Allah. Di akhirat nanti mereka akan terancam masuk ke neraka lebih dahulu untuk membersihkan dosa-dosanya. Jika dosanya telah bersih, barulah ia masuk ke dalam surga.
Bangunan Islam ditegakkan oleh lima tiang, yaitu:
- Syahadatain
- Shalat
- Zakat
- Puasa
- Haji
2. Tingkatan al-Iman al-Wajib (Iman yang Wajib) = Iman
Menurut bahasa iman berarti membenarkan, sedangkan menurut syara’ berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan perbuatan dengan anggota badan.
Iman dinamakan juga al-iman al-mufashal (iman secara terperinci) atau al-iman al-mutlaq (iman sepenuhnya) atau il-iman al-kamil (iman yang sempurna) atau haqiqat al-iman (iman yang sebenarnya). [4]
Tingkatan iman ini adalah dengan mengerjakan seluruh perintah yang wajib hukumnya dan menjauhi dosa-dosa besar. Orang yang berada di tingkatan ini disebut mukmin. Mereka dijanjikan masuk surga tanpa harus merasakan siksa api neraka terlebih dahulu. Jika disebutkan orang-orang mukmin tanpa ada ikatan tertentu di dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah orang-orang yang berada di tingkatan ini.
Orang orang mukmin yang berada di tingkatan ini juga terbagi menjadi beberapa tingkatan. Orang Mukmin yang melakukan dosa-dosa kecil maka dosanya akan terhapus oleh amal kebaikannya. Ada juga orang yang berada di tingkatan yang lebih baik yaitu orang Mukmin yang lebih mampu untuk menjauhi dosa-dosa kecil.
Kepatuhan yang sebenar-benarnya tidak akan terlaksana dengan ketiadaan iman atau kepercayaan, karena islam itu adalah ibarat pokok, sedangkan iman adalah ibarat benih dan setiap ikhtiar yang dilakukan oleh manusia adalah timbul dari suatu kepercayaan yang diyakini kebenarannya.
Iman terdiri dari enam rukun yaitu:
- Iman kepada Allah SWT;
- Iman kepada malaikat-malaikat Allah;
- Iman kepada kitab-kitab Allah;
- Iman kepada rasul-rasul Allah;
- Iman kepada hari akhir;
- Iman kepada qadha dan qadar.
3. Tingkatan al-Iman al-Mustahab (iman yang Sunnah) = Ihsan
Ihsan menurut bahasa berarti berbuat kebaikan, yaitu segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji. Kata-kata ihsan meiliki dua sisi: Pertama, memberikan kebaikan kepada orang lain. Dalam bahasa Arab dikatakan ahsana ila fulan yang artinya ia telah berbuat baik kepada si fulan. Kedua, memperbauki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikannya. Dikatakan ahsana ‘amalahu jika ia telah menyempurnakannya. Adapun ihsan menurut syara’ adalah sebagimana yang dijelaskan oleh Nabi saw dalam sabda beliau: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar ra). [5]
Ihsan ialah cara mengerjakan sesuatu ketaatan dengan sebaik-baiknya, lengkap segala peraturannya, serta dengan ikhlas kepada Allah Ta’ala, yaitu bersih dari syirik dan sikap munafik serta bersih dan perasaan ria, ujub dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah: 112).
Ihsan dinamakan juga al-iman al-kamil bil mustahabat (iman yang sempurna karena melakukan amalan-amalan yang sunnah). Yaitu tingkatan iman dengan mengerjakan seluruh perintah, menjauhi seluruh dosa besar dan mengerjakan amalan-amalan sunnah. [6]
Dengan ihsan setiap orang akan meyakini bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah, meskipun ia bersembunyi di dalam gua atau tempat yang tiada cahaya sekalipun. Ia akan berusaha dengan sekuat tenaga melakukan yang terbaik. Ia akan berbuat jujur meskipun kenyataannya jujur itu terasa pahit, ia akan memegang jabatan dengan amanah, ia tidak akan korupsi, yang menurut sebagian orang yang tidak memiliki ihsan bahwasannya yang penting tidak diketahui oleh pihak yang berwajib, padahal Allah-lah yang membuka dan menutupi aib setiap manusia.
Dengan ihsan pula, seseorang akan selalu mengingat Allah tentang segala apapun yang dilihatnya, didengarnya, dirasakannya. Ketika ia melihat pemandangan yang bagus ia akan mengingat Allah dan mengatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan keindahan. Ketika ia melihat bunga yang sedang bermekaran ia akan mengingat Allah. Ketika ia mendengar suatu yang membuatnya sedih ia tetap mengingat Allah. Hatinya akan diliputi keagungan Rabb-nya yang membuat hatinya menjadi lapang dengan segala yang terjadi. Hatinya bahagia ketika ia bersedekah secara sembunyi-sembunyi, ia akan selalu merasa cukup, cukup hanya Allah saja yang tahu dengn sebesar dan sedalam apapun yang ia perbuat, ia hanya ingin Allah yang tahu dengan penuh harapan dan penuh kekhusyuan.
Syaikh Muhammad bin Utsaimin menjelaskan, diantara faedah yang bisa dipetik dari penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Rabb-nya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Allah dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” [7] Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.
Dari penjelasan di atas, dapat kita perjelas bahwa ihsan kepada Allah terbagi menjadi dua tingkatan. Tingkatan pertama yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jibril berkata: beritahukan kepadaku tentang ihsan. Rasulullah saw menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akn engkau melihat-Nya.” Derajat ihsan inilah yang paling sempurna karena beribadah kepada Allah dengan mengandung raghbah wa thalab (menginginkan dan mencari), hingga seakan akan ia melihat-Nya. Orang yang berada di derajat ini akan merasakan muraqabah (pengawasan Allah) serta akan senantiasa memperbaiki dan memperindah amalnya.
Tingkatan yang kedua adalah beribadah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Jika engkau tidak melihatnya, yakinlah bahwa sesungguhnya Ia melihatmu”. Derajat ini lebih rendah daripada tingkatan yang pertama karena seorang dalam beribadahnya mengandung khauf wa harb (takut dan lari). Maksudnya jika tidak dapat beribadah seakan-akan melihat dan meminta kepada-Nya serta mendorong jiwanya untuk sampai kepada-Nya, maka beribadahlah kepada Allah dengan perasaan bahwa Allah menyaksikannya. Dan ibadah ini merupakan ibadah orang yang takut dan lari dari siksa-Nya.
Menyembah kepada Allah itu didasarkan pada dua perkara, yaitu ketinggian cinta kepada Allah SWT dengan pengagungan tinggi dan sikap merendahkan diri yang dalam kepada-Nya. Maka rasa cinta melahirkan rindu dan menuju hanya kepada-Nya, sedangkan mengagungkan dan merendahkan diri kepada-Nya melahirkan sikap takut dan bergegas lari menuju kepada-Nya. Inilah ihsan dalam penyembahan kepada Allah SWT dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
C. Kaitan Antara Iman, Islam dan Ihsan
Adapun kaitan antara ketiga hal tersebut yaitu Iman berkaitan dengan aqidah, Islam berkaitan dengan syariah, dan Ihsan berkaitan dengan khuluqiyah. Dari ketiga hal diatas maka dalam perkembangan ilmu keislaman, ilmu terkelompok menjadi aqidah, fikih, dan akhlaq.
Setiap pemeluk islam mengetahui dengan pasti bahwa islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Dari pengertian tersebut memiliki arti masing-masing istilah terkait satu dengan yang lain. Bahkan tumpang tindih sehingga satu dari ketiga istilah tersebut mengandung makna dua istilah yang lainnya.
Islam, Iman dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya lewat tiga cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriah manusia sebagai hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid yang menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan untuk mempelajari ihsan sebagai tata cara beribadah adalah bagian dari ilmu akhlak.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 19).
Di dalam ayat tersebut dijelaskan kata Islam dan selalu diikuti dengan kata addin yang artinya agama. Addin terdiri atas 3 unsur yaitu, iman, islam, dan ihsan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa iman merupakan keyakinan yang membuat seseorang ber-Islam dan menyerahkan sepenuh hati kepada Allah dengan menjalankan syariatnya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh syariat Islam dengan sebaik-baik amal ibadah.
D. Perbedaan Antara Iman, Islam, Dan Ihsan
Tingkatan islam, iman dan ihsan ini tersirat pada firman Allah Ta’ala:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Q.S. Fathir: 32).
Zhalim li-nafsih (orang yang menganiaya dirinya sendiri) adalah muslim yang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Ia berada pada tingkatan islam. Muqtashid (orang yang pertengahan) adalah muslim yang mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Ia berada pada tingkatan iman. Sabiq bil-khairat (orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan) adalah muslim yang mengerjakan perintah yang wajib dan sunnah, dan menjauhi larangan yang haram dan makruh. Ia berada pada tingkatan ihsan. [8]
Disamping adanya hubungan diantara ketiganya, juga terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati. Islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal, dan Ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata. Dan dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau tebal iman dan islamnya.
Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya, karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.
Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya, karena ia mengandung Islam. Maka, seseorang tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.
Islam dan iman jika disebutkan salah satunya secara terpisah dalam nash maka yang lain termasuk di dalamnya. Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Namun jika kedua-duanya disebut secara bersamaan, maka masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril. Ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila disebutkan secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencukupi yang lainnya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan Aku telah ridha islam menjadi agama kalian.” (Q.S. Al-Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman.
E. Muslim, Mu’min dan Muhsin
Para ulama’ menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,
قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".” (Q.S. Al Hujurat: 14).
Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan. Kita hendaknya bisa menjadi orang yang muslim haqiqi, bisa menjalankan semua perintah Allah Ta’ala yang wajib maupun yang sunnah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.
Catatan Kaki:
1. Kitabut Tauhid: 67
2. Kitabut Tauhid: 68
3. Mizanul Muslim: 280
4. Mizanul Muslim: 281
5. Kitabut Tauhid: 68
6. Mizanul Muslim: 281
7. Ta’liq Syarah Arba’in An-Nawawi: 21
8. Mizanul Muslim: 282










